Rabu, 15 Mei 2013

Jago panjalu



Kukuruyuuuuuukkk……….. kukuruyuuuuukkkk…………….
Swara jago padha sesautan sajak nggugah titah kang isih énak kepénak. Dasar hawané rada adem, dadi énak yen menawa awaké dikemuli slimut. Jago panjalu wis tangi watara ngarepké subuh mau. Sang jago mau mangerti Manawa ing dina iki déwéké kudu nindhakaké pegawéan, yaiku nggugah lan ngelingaké kabéh titah Manawa dina bakal gumanti padhang. Babon-babon uga terus padha ngelèkkè mripat. Kruk-kruk-kruk.. babon pitik nggugah anakè kang isih kangeten ndhesel ing kèléking swiwi baboné. Anaké pada nyauri piyèk-piyèk-piyèk, “wah wis èsuk ta iki…..” gunemè temurun mau.
Esuk umun-umun, dina peteng repet-repet. Katon iring wètan ono werno semburat koyo semongko sinigar. Soyo suwè saya cetho, semongko sinigar mau dadi abang , rasanè anget semlenget luwih anget katimbang kemul slimut ing bengi iki. Hawa seger mrambat plong ing bolonganing irung dadia meger-meger.
“Wela dalahhh….” Aku mak grigap tangi krungu ana swara lawang digedor ping bola-bali. Nadyan isih kabotan tlapukan mripat iki, aku kepeksa tangi. “Sapa ta èsuk-èsuk wis ndhodhak-ndhodhok nggedhori lawang omah ki ?” gunemku grundhelan mbari ngangkat tangan sakawaku. Rada ngethuk aku jumangkah tumuju ing asaling swara mau. Lawang terus tak buka alon-alon. “Kowè to thuk…”pitakonku marang pitik sing ana ngarepan lawang. Wis dadi padatan saben dina si jago panjalu, babon pitik karo temurunè pada njaluk sarapan èsuk. Gagè aku mlebu omah njupuk cething isi sega wadhang turahanè genduren wingi sorè. Wah peneran, dasar seganè rada anyep kena nggo pakan  pitik. Pitikè nganti ora sabar terus nututi aku mlebu omah. Ngerti aku nyangking cething, terus pating klabruk, nglunjaki cething sing dak gawa.
Karo rebutan, malah ana sing mendheli kancane dhèwè merga pengin oleh pangan sing akéh.
Aku matur nuwun banget amarga jago panjalu wis nggugah aku, malah luwih saka iku. Aku di ajari kudu duwe semagat ora wegah, seko ora wegah tangi esuk terus makaryo luru tègeling kètèl sing ora tau kebak…..


welingé Simbah:
putu angger…. Menungsa ngono diwajibaké makaryo.
Ngudi ngèlmu kanggo  genepping jiwa lan srana.
Mula aja nganti kalah karo tangining si blorok.
Fr. Ans
Padeprokan Karsa Jati.COM

Minggu, 28 April 2013

Remen Peken


Remen Peken:

Cintai Pasar Tradisional


“Saya senang tampil di pasar”, ungkap Antonius Ade Andhika salah seorang siswa kelas VI SD Kanisius Kenalan, Borobudur, Magelang usai pementasan  musik perkusi Blekothek di pasar Jagalan Banjar oya Kalibawang Kulon Progo, Sabtu Legi pagi (27/4).

Pementasan musik yang singkat dan sederhana ini sengaja diselenggarakan di lokasi pasar.  “Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran dengan tema Pasar. Beberapa minggu lalu,ketika ujian praktik kelulusan dilaksanakan, siswa kelas VI harus berangkat ke pasar untuk berbelanja bahan makanan yang selanjutnya dimasak  di sekolah”, demikian disampaikan Simus  Maryono(37) guru kelas VI. Pentas musik ini menggenapi pengalaman mereka dalam interaksinya dengan pasar, tambahnya.

Sebagai bentuk pembelajaran tematik, tema pasar dapat dieksplorasi lebih jauh dan mendalam oleh SD Kanisius Kenalan yang berwawasan lingkungan. Bahkan kegiatan pembelajaran ini diintegrasikan ke dalam program Remen Peken. Bagi anak-anak, program kegiatan ini  bertujuan untuk menumbuhkan rasa senang terhadap pasar tradisional, seperti pasar Jagalan yang terdekat dengan lingkungan asal mereka.   Demikian juga bagi masyarakat diharapkan tetap senang dan memilih mengunjungi pasar Jagalan.

Blekothek, sebuah komunitas musik perkusi yang beranggotakan siswa-siswi SD Kanisius Kenalan. Komunitas  ini muncul bermula dari kesukaan anak-anak menggunakan barang bekas (kaleng, galon, kayu, bambu) untuk bermain musik.  Demikian diceritakan oleh Martinus Radityo Adi (30), guru sekaligus pendamping komunitas. Setiap Rabu sore, komunitas anak ini berlatih dan ditemani Sungging, salah satu volunteer  yang menggarap seni perkusi, jelasnya.

Setelah tampil di Yogyakarta ( 2010, 2011, 2013) dan liputan oleh stasiun TV nasional, Trans 7 (2011) dan Metro TV (2013), pentas musik di lokasi pasar Jagalan dengan 7 pemain perkusi dan 7 penyanyi ini menambah pengalaman pentas komunitas Blekothek yang aktif sejak tahun 2008. “Kok pentasnya hanya sebentar to?” tanya salah seoring ibu yang sempat memperhatikan tampilan anak-anak. Pertanyaan seorang ibu ini menyemangati Ade dan kawan-kawan untuk tampil lagi pada hari Setu Legi yang akan datang.  Dan tentu menambah semangat mereka menghadapi Ujian Nasional SD, 6 Mei 2013 minggu depan. 



Minggu, 13 Januari 2013

Misa Guyub Maryam


Misa Guyub Maryam

Rabu, 30 Mei 2012, kami warga SD Kanisius Kenalan mengadakan ziarah ke goa Maria Watu Tumpeng, Kapuhan, Majaksingi, Borobudur, Magelang. Kegiatan ini diadakan untuk memperingati berdirinya Guyub Maryam. Guyub Maryam adalah kelompok atau komunitas yang terdiri dari anak-anak yang setiap hari senin berdoa Rosario dan melaksanakan tugas.
Perjalanan dimulai dari kapel Kerug . dalam perjalanan, kami memunguti sampah sambil mengucapkan doa “Tuhan kasihanilah kami!”, atau “Tuhan, ampunilah kami!”, atau “Tuhan berkatilah bumi ini!” Banyak teman yang mengucapkan doa, “Tuhan kasihanilah kami!” dan “Tuhan, ampunilah kami!”
Setelah sampai di SD Satu Atap Kerug Munggang, kami semua kaget karena di sana banyak sampah yang berserakan. Kami sedih melihat sampah-sampah itu. Kemudian, kami mengambilinya. Di sepanjang jalan menuju goa Maria Watu Tumpeng, kami memunguti sampah plastic. Hamper dua karung plastic sampah yang kami pungut.
Sebelum misa, dilakukan doa Guyub Maryam. Doa dipimpin oleh Mega, Lia, Elin, dan Ayu. Misa segera dimulai. Dipimpin oleh Rm. Agustinus Agus Widodo, PR. Misa selesai. Kami pulang dengan gembira.

Diceritakan oleh Ayu, anggota Guyub Maryam SD Kanisius Kenalan

Saya mengikuti misa tiga tahun Guyub Maryam di gua Maria Watu Tumpeng, Kapuhan, Rabu 30 Mei 2012. Saya merasa senang karena mendapat wawasan Gua Maria di paroki Promasan. Dalam misa itu, yang bertugas koor adalah anak-anak perempuan kelas enam. Putra altar anak-anak kelas lima. Misa dipimpin oleh Rm. Agus Widodo, PR.
                Sebelum misa dimulai, kami berdoa seperti Guyub Maryam. Setelah doa, Bp. Suroto menyanyi macapat. Ekaristi pun dimulai. Saya bersiap-siap memukul alat music bersama teman laki-laki yang lain. Anak-anak perempuan menyanyi.
                Sebelum berangkat, kami berkumpul di kapel  Kerug. Kami berjalan kaki sambil memunguti sampah. Ketika memungut sampah kami kami mengatakan, “Tuhan kasihanilah kami.”
                Misa berjalan dengan lancar. Saya pulang bersama teman-teman. Saya membeli permen. Dalam perjalanan, minum saya tumpah sehingga tas dan buku saya tumpah. Sampai di rumah saya langsung ganti baju.

Diceritakan oleh I Kredo A An, anggota Guyub Maryam, SD Kanisius Kenalan.


Senin, 22 Oktober 2012

Blekothek "Ngrukti Wiji"



Hari Pangan Sedunia, Nglestareake Pangan Lokal
Wiji (benih/biji) adalah simbol kehidupan. Dialah sang penerus kehidupan. Melalui wiji, Allah memberikan tanda Maha KuasaNya. Sekecil apapun biji, itulah keindahan yang harus dimengerti oleh manusia.
 “Membangun kecukupan pangan bagi semua” adalah tema Hari Pangan Sedunia Komisi PSE KWI. Bagaimana umat Paroki Promasan (umat katolik desa) memaknai HPS tahun 2012? Umat Katolik Paroki Promasan yang sebagian besar berprofesi sebagai petani melaksanakan Ibadah Ekaristi dilanjutkan festival makanan tradisional di kompleks Peziarahan Goa Maria Sendang Sono, Minggu Pon 21 Oktober 2012. Dipegunungan Menoreh masih banyak sumber pangan lokal. Kelestariannya tergantung dari pola konsumsi yang dibangun dimasyarakat, termasuk upaya merawat benih sebagai simbol kehidupan. Tanpa Ngrukti Wiji (Bahasa Jawa Ngrukti: memelihara dengan hati, wiji: biji), akan terancam sumber pangan manusia. Melestarikan pangan Lokal demikian Nglestareake Pangan lokal (Bahasa Jawa; nglestareake = melestarikan) dapat diartikan. Ngrukti Wiji, menjadi bagian tak terpisahkan dari Nglestareake Pangan Lokal. Sebelumnya telah dilaksanakan sarasehan Tani “Nglestarekke Pangan Lokal”, Karang Harjo, Minggu Wage, 07 Oktober 2012.
Pagi yang mendung, redup, seakan memberi kesempatan umat segera bergegas menuju lokasi. Di sebelah selatan Goa Maria, tepatnya di pelataran depan Sekretariat Peziarahan Sendang Sono didirikan tenda lengkap dengan 26 meja sesuai dengan jumlah lingkungan yang ada di Paroki Promasan. Satu persatu meja mulai dipenuhi dengan sajian makanan tradisional dengan menu nasi jagung, tiwul, aneka sayur, lauk sederhana, tempe dan ikan asin. Secara suadaya umat dilingkungan mempersiapkan menu pesta HPS setelah Misa usai.
Komunitas Blekothek memainkan alat musik dari barang-barang bekas.
Komunitas Blekothek (Komunitas musik alternatif) Sekolah Dasar Kanisius Kenalan mengawali rangkaian peringatan HPS (pra Misa) dengan pentas lakon “Ngrukti Wiji”. Walau  pagi nampak mendung, tidak menyurutkan Komunitas Blekothek untuk melakoni pentas musik dan teaternya. Darasan kidung Macapat mulai dilantunkan dan semakin indah karena diiringi dengan siter dan seruling bambu. Kaleng bekas hasil pilah sampah, kenthongan bambu, drum bekas di padu dengan teater anak menjadikan Sendang Sono semakin sejuk di kalbu. Lirik lagu bernuansa jawa, mengajak umat ‘gumregah (bahasa Jawa; bangkit) mencintai benih sebagai ujud nyata melestarikan pangan. Sentuhan kata dari bibir mungil mereka mengingatkan kembali betapa harus tulus memelihara alam dengan hati, penuh keikhlasan supaya lestari. “Biji itu sumber kehidupan, maka harus dilestarikan” tutur Depsi (10) murid kelas 4 memberikan kata penutup dalam teater yang berdurasi hampir satu jam tersebut.
Pesan misa HPS yang dipimpin oleh Rama Antonius Wahadi, Pr dan konselebran Rama Agustinus Ariawan, Pr dituturkan “hidup itu gogo gogo golek sego perlu keseimbangan antara mencari penghidupan dibarengi iman. Tandasnya lagi “ sebagai bentuk pertobatan kita, maka kita harus melestarikan alam.” Misa HPS disemarakkan oleh Paduan Suara OMK (Orang Muda Katolik) Paroki Promasan. Dekorasi berbahan dasar hasil bumi jagung, ketela, kimpul, mbili, mbolo, suweg, aneka buah buahan menambah Misa syukur HPS menjadi semakin bermakna.
Setelah Misa HPS tahun 2012, Rama Antonius Wahadi, Pr dan Rama Agustinus Ariawan, Pr bersama murid-murid SD Kanisius Kenalan melakukan pelepasan 10 ekor burung Kutilang, dan beberapa jenis ikan si sungai di bawah Goa Maria Sendang Sono. Hal sederhana ini ingin menandai sebagai bentuk pertobatan manusia untuk lebih mencintai bumi dengan perilaku manusiawinya. Sementara di seberang sungai ribuan umat yang hadir baik dari desa ataupun dari kota semua berpesta, berbagi makanan tradidional, kembul bojana (makan bersama).
Peringatan Hari Pangan Sedunia bukanlah sekedar rutinitas pesta, melainkan “bagaimana setiap orang mewujudkan pertobatannya” seperti teladan dan nilai spiritualitas Maria. Orang Tua, semua orang saling menanamkan nilai hidup lestari bagi sesama, terlebih bagi anak-anak sebagai penerus kehidupan.
(dituliskan oleh Frans. Fri Harna,).




Jumat, 17 Februari 2012

sekolah Berwawasan Lingkungan


SD Kanisius Kenalan berada dalam wilayah Paroki Promasan. Letaknya adalah persis di garis perbatasan antara Kulon Progo Yogyakarta dan Kecamatan Borobodur-Kabupaten Magelang. Selama 4 tahun terakhir ini, SD Kenalan telah berusaha keras untuk meningkatkan kemampuan SD ini untuk menjawab tantangan pendidikan, sekaligus tantangan situasi sosial-ekonomi di wilayah pedesaan di sekitar SD. SD Kanisius Kenalan telah menghasilkan pemuka masyarakat dan Gereja. Tantangan saat ini adalah bagaimana tetap ada murid-murid yang terus menjadi bagian dari peran pendidikan SD Kanisius Kenalan. Murid-murid SD Kanisius berasal dari keluarga petani. Para pendidik SD Kanisius Kenalan terus berusaha supaya anak-anak pedesaan Kenalan tetap menjadi bagian dari pendidikan SD Kanisius Kenalan, dan tidak menyusut baik dalam jumlah murid dan dalam peran pendidikan.

Minggu, 17 Oktober 2010

Hari Pangan Sedunia




1. pembuatan iklan radio
Pangan lokal, Pangan Sehat Kini dan Masa Depan
Di jaman yang sangat pesat perkembangannya ini, manusia menghadapi beragam tawaran jenis makanan. Dalam situasi ini, pangan lokal atau pangan
ndesa, semakin dipinggirkan dan diabaikan. Meski pangan lokal berrasa lebih enak dan juga bergizi, orang cenderung memilih pangan cepat saji. Hal ini memprihatinkan; anak-anak menjadi korban panganan pabrikan. Diperlukan upaya mengenalkan dan menumbuhkan kembali cinta pangan lokal ini dalam diri anak-anak.
2. masak makanan tradisional.
Pangan lokal, pangan yang sederhana, sehat, dan bergizi untuk tubuh kita. Mudah didapat dan murah. Pangan lokal itu beraneka ragam jenisnya sesuai dengan kekhasan daerahnya. Maka, Ayolah kita lestarikan keragaman pangan lokal, pangan sehat untuk sekarang dan masa depan.
Dipersembahkan oleh komunitas Wiji Thukul, Geladi Wicara Republik Anak Kenalan, SDK Kenalan.
3. HPS Sendangsono.
Warga SDK Kenalan (warga RAK) menyemarakkan pra-misa dengan berkolaborasi dengan kelompok musik Unen Unen Alas Menoreh. barang bekas tidak lagi menjadi sampah, dimanfaatkan sebagai musik alternatif. Slogan Gunung Desa Reja diteriakkan lantang oleh anak-anak dibarengi genderang kaleng bekas, botol aqua bekas menandaskan suasana.
Dipersembahkan oleh komunitas Wiji Thukul, kelompok musik Blekhotek Republik Anak Kenalan, SDK Kenalan.
Semoga dengan kegiatan riil anak-anak semakin menghayati dan dan mencintai makanan sehat. harapan ke depan mereka menjadi aktor pembawa perubahan dan tetap cinta bumi 'paring Ndalem Gusti.

Sabtu, 27 Februari 2010

Kebudayaan itu sifatnya terus-menerus, bersambung tak putus putus, merupakan garis kehidupan sesuatu bangsa yang tumbuh dan berkembang maju. Dengan perkembangan dan kemajuannya menerima pengaruh nilai-nilai baru, garis kemajuan sesuatu bangsa ditarik terus. Bukan loncatan putus-putus dari garis asalnya. Loncatan putus akan kehilangan pangkal asalnya untuk maju selanjutnya. Kemajuan sesuatu bangsa adalah lanjutan garis hidup asalnya yang ditarik terus dengan menerima nilai-nilai yang baik, baik itu dari bangsa itu sendiri maupun dari luar. (Ki Hajar Dewantoro)
Di era globalisasi saat ini belum semua sekolah menerapkan suatu kurikulum pembelajaran tentang budaya lokal. Betapa luhurnya nilai budaya yang diwariskan nenek moyang kita. Sangat disayangkan ketika nilai-nilai itu tidak ditanamkan sejak dini terlebih dalam dunia penidikan formal. Mungkin di tengah maraknya serbuan budaya asing di kehidupan kita, Anda juga sering berkomentar “wah apik kui, ana sekolahan sing isih nggatekke bab kalestaren budaya, perlu di dukung…” Apabila Bapak Ibu diberi suatu pertanyaan “ Apa yang telah Bapak Ibu perbuat untuk kelestarian budaya terlebih langkah nyata Anda dalam mewariskan nilai-nilai luhur budaya local bangsa Indonesia….?
(Komprenx)